siapa yang disebut radikal dan intoleransi? Orang Islam atau non Islam? Mari kita simak,


SEBAGIAN orang tersesat pemikirannya, sehingga ia menganggap bahwa orang Islam khususnya para pendakwah atau aktivis Islam adalah orang-orang yang radikal dan intoleransi. Entah faktor kebodohan ataukah ada faktor lain yang menjadikan dirinya memiliki anggapan seperti itu.

Jika orang tipenya semacam ini agamanya non Islam mungkin kita anggap wajar karena memang dari awalnya mereka tidak paham tentang jati diri orang Islam. Ironisnya, ada orang-orang tipenya semacam ini sedangkan ia ber KTP Islam.

Pertanyaannya, sebenarnya dalam Al-Quran siapa yang disebut radikal dan intoleransi? Orang Islam atau non Islam? Mari kita simak, Alloh Ta'ala berfirman:

 لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. "(QS. Al Maidah: 82).

Ternyata dalam Al-Quran, orang Islam bukanlah orang yang radikal. Tetapi merekalah yang radikal.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. "(Al-Baqarah: 120).

Ternyata dalam Al-Quran, orang Islam bukanlah orang yang intoleransi. Tetapi merekalah yang intoleransi.

Dari pemikiran sesat inilah orang-orang yang tipenya semacam itu dalam bersikap terbalik. Kepada orang Islam terkhusus kepada pendakwah atau aktivis Islam hatinya selalu benci, curiga bahkan tidak segan untuk menzaliminya dengan tuduhan radikal dan intoleransi. Sedangkan kepada non Islam ia mendukungnya, ia bantu dalam urusannya, bahkan ia siap menjadi garda terdepan walaupun orang Islam menjadi korbannya.

Sungguh mengkhawatirkan jika orang-orang seperti ini tertimpa fitnah sebagaimana dalam hadits yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

ﺑَﺎﺩِﺭُﻭﺍ ﺑِﺎﻷَﻋْﻤَﺎﻝِ ﻓِﺘَﻨًﺎ ﻛَﻘِﻄَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺍﻟْﻤُﻈْﻠِﻢِ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﻤْﺴِﻰ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻳُﻤْﺴِﻰ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻛَﺎﻓِﺮًﺍ ﻳَﺒِﻴﻊُ ﺩِﻳﻨَﻪُ ﺑِﻌَﺮَﺽٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118)

Semoga Alloh menjaga kita dari fitnah tersebut.*

Abul Fata Murod, BA


Pengamat terorisme dan intelijen, Harits Abu Ulya menyatakan sepakat untuk mengutuk setiap aksi kekerasan fisik terhadap semua anak bangsa. Namun, dia menduga kekerasan bisa saja aktornya adalah negara, oknum aparatur negara, atau dari sekelompok masyarakat bahkan bisa dari individu-individu masarakat terhadap sesama anak bangsa penghuni NKRI.

“Kasus yang menimpa Pak Wiranto menurut saya adalah salah satu contoh tindak kriminal kekerasan. Aksi kriminal tersebut perlu ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Harits di Jakarta, Kamis (10/10).

“Bisa saja itu pelakunya adalah orang-orang yang secara personal benci kepada Wiranto sebagai Menko Polhukam yang selama ini dianggap membuat statemen politik yang tidak nyaman bagi sebagian nalar dan nurani publik,” ujarnya melanjutkan.

Selain itu, kata dia, bisa saja kasus kriminal ini seolah menjadi sangat penting karena yang di serang adalah seorang pejabat menteri meski jelang titik akhir jabatannya. Namun, jika dibandingkan dengan kasus atau tragedi aksi kekerasan lainnya yang menimpa rakyat, maka apa yang dialami Wiranto suatu hal yang kecil.

“Rakyat masih banyak yang lebih menderita dan butuh perhatian lebih serius pengungsi korban gempa Ambon, pengungsi dan korban penyerangan di Wamena, korban meninggal dan luka-luka saat aksi demonstrasi beberapa pekan lalu, dan lain-lain,” katanya.

“Jadi kita proporsional saja, pelaku kriminal penyerangan di bawa ke meja hijau dan di adili,” imbuhnya.

Namun, bisa saja ada sebagian pihak yang ngebet menyeret ke arah isu terorisme dengan munculnya narasi keterkaitan pelaku kriminal tersebut dengan kelompok tertentu yang selama ini di cap teroris. Dengan begitu akan mudah memunculkan judul ‘Menteri Polhukam di serang Teroris’, akhirnya akan banyak melupakan persoalan urgen lainnya dan publik di seret ke isu daur ulang yang tidak ada ujung pangkalnya.

PENUSUKAN' WIRANTO : ANTARA FAKTA, OPINI DAN NARASI


Oleh : Nasrudin Joha
Peristiwa penusukan Wiranto itu merupakan satu fakta, pelaku dikaitkan dengan ISIS dan JAD itu opini, sementara Jokowi mengajak segenap elemen anak bangsa untuk memerangi radikalisme dan terorisme itu narasi. Saya ingin mengajak pembaca, mencoba berfikir 'agak nakal' agar sajian berita yang diunggah media, dapat kita pilah-pilah rasanya.
Untuk itu, kita akan memulainya dengan membahas aspek fakta, kemudian opini, dilanjutkan dengan mengkritik narasi yang disuguhkan.
Secara fakta, peristiwa penusukan Wiranto di Pandeglang merupakan realitas yang nyata, peristiwa itu benar-benar ada, bukan hoax, bukan khayalan. Namun, dalam aspek fakta saja, peristiwa penusukan Wiranto ini terdapat banyak kontroversi.

Karenanya, yang perlu ditelisik lebih jauh adalah apakah fakta penusukan Wiranto itu sebuah fakta insiden, atau fakta yang didesain. Dua model fakta ini, umum terjadi dalam sebuah peristiwa.

Seseorang merayakan ulang tahun, itu fakta. Namun ini terkategori fakta yang didesain, direncanakan, sudah diketahui sejak awal kapan tanggal ulang tahun, dan bisa dipersiapkan sejak dini. Adapun peristiwa kecelakaan maut di Jagorawi, itu juga fakta namun murni insiden. Tanpa rencana, tanpa rekayasa.

Mari membahas fakta penusukan Wiranto. Dari sisi waktu, kronologi dari berbagai sumber itu menyebut peristiwa terjadi antara pukul 11.40 sampai pukul 12.00. Sekitar itulah.

Namun setelah dilakukan pengecekan berita online, rata-rata berita baru muncul diatas pukul 13.00. Ada yang mengunggah berita tentang Wiranto pertama kali pukul 13.14, 13.15, dan seterusnya. Tak ada laman berita yang menampilkan berita kejadian sebelum pukul 13.00 atau apalagi pukul 12.20 an.

Padahal, untuk sekelas pejabat Kemenkopolhukam itu bukan saja pengawal yang melekat. Namun unsur wartawan juga melekat. Apalagi, dari kronologi yang beredar, Wiranto melakukan banyak kegiatan sebelum akhirnya ditusuk.

Jika wartawan melekat ini hadir, tentu berita penusukan Wiranto ini sangat seksi. Wartawan bisa melakukan wawancara langsung, atau setidaknya bisa mengunggah berita di kanal beritanya paling lama 15 menit setelah kejadian.

Idealnya, pukul 12.15 (paling lama) berita tentang penusukan Wiranto ini sudah tayang dan viral. Tentu saja, keterlambatan tayang itu bisa saja terjadi, namun untuk berita seksi seperti ini sangat aneh jika jeda penayangan berita butuh waktu lama, padahal berita online itu secara teknis bisa saja real time. Berbeda dengan koran yang menunggu cetak dulu.
Karenanya, wajar saja jika dalam konteks ini publik berpraduga ada pengkondisian sebelum semua media  koor memberitakan peristiwa penusukan Wiranto.
Selanjutnya, berita online ini diiringi dengan beredarnya video amatir yang merekam kejadian penusukan Wiranto. Jadi, berita online dahulu keluar baru disusul viralnya video amatir yang merekam detik-detik penusukan Wiranto.
Padahal, merujuk karakter sosial media, biasanya konten netizen itu selalu lebih dahulu viral ketimbang unggahan kanal berita. Sebagai contoh, kasus viralnya video polisi masuk masjid tanpa mencopot sepatu saat mengejar mahasiswa akai demo di makasar.
Video amatir netizen viral dahulu, baru ada berita polisi yang mengklarifikasi itu hoax, sejurus kemudian muncul lagi berita polisi membenarkan peristiwa dan meminta maaf. Contoh lain adalah video wanita di Bogor (Sentul) masuk masjid membawa anjing, videonya viral terlebih dahulu (nyaris real time), baru beritanya menyusul.
Dalam kasus penusukan Wiranto, itu berita dulu yang viral baru menyusul video atau setidaknya bersamaan dg video amatir yang beredar. Itupun terjadi setelah diatas pukul 13.00, padahal peristiwa penusukan dikabarkan antara pukul 11.40 atau hingga 12.00. Karakter netizen, kalau mendapat video itu tak mau menunggu beberapa menit atau hingga satu jam lebih. Mereka, pasti akan memviralkannya real time.
Isi berita juga variatif, dari Kabar Wiranto selamat dari penusukan dan hanya anggota polisi yang terluka karena melindungi Wiranto, sampai akhirnya terbit berita yang mengabarkan Wiranto terluka bagian perut. Alat untuk menusuk juga mengalami reinkarnasi, dari awalnya diberitakan gunting kemudian berubah menjadi senjatanya Naruto.
Dari aspek fakta, muncul pula analisis netizen yang mengabarkan adanya kondisi Wiranto telah mengenakan perban, padahal di TKP tdk terlihat

adanya darah yang tercecer jika benar Wiranto ditusuk. Video yang beredar, setelah diolah secara show motion, ditemukan fakta unik ini.
Dari aspek fakta, juga aneh dimana pelaku kejahatan membawa identitas lengkap juga membawa istri turut serta. Sejahat-jahatnya penjahat, mereka itu ingin istri duduk manis dirumah untuk menikmati kejahatan suaminya, cukuplah suami yang merampok tugas istri hanya menikmati hasil rampokan.
Faktanya, pelaku (boleh dibaca : pelakon), justru membawa istri turut serta lengkap dengan aksesoris pakaian Islami.
Dari sisi opini, pada saat kabar penusukan ini beredar polisi bersamaan memproduksi opini yang disajikan bersamaan dengan kabar penusukan Wiranto, keadaan ini menjadikan bias berita (antara fakta dan opini campur aduk). Opini yang ikut diedarkan, misalnya : polisi menduga pelaku terkait ISIS, kemudian pelaku anggota JAD, BIN menyebut Wiranto ditarget tiga bulan sebelumnya, Wiranto memimpin polisi langsung dalam pemberantasan terorisme. Semua info ini hanya bersumber dari polisi, dan jika ada yang bersumber dari pelaku maka ini belum memenuhi kreteria cukup karena belum terpenuhi unsur dua alat bukti.
Opini yang diedarkan inilah, yang kemudian menjadi jembatan narasi (Naration Bridging). Narasinya, tdk hanya dimainkan oleh Menag, Wapres, jaksa Agung, ketua MPR RI, Megawati, bahkan hingga Jokowi.
Jokowi langsung berpidato gagah, mengajak seluruh komponen anak bangsa untuk bersama memerangi radikalisme dan terorisme. Menag, mengajak semua tokoh lintas agama untuk berdoa. JK, juga menyemburkan ledakan kata terkait radikalisme, mega mengharu-birukan petistiwa dengan mengirim karangan bunga untuk Wiranto.
Dalam perkara lain, misalnya kasus pembantaian di Wamena, Jelas banyak korban jiwa, dibunuh secara keji, dibakar, ribuan mengungsi, kehilangan harta benda dan tempat tinggal.
Mana pidato Jokowi ? Mana bela sungkawa Jokowi untuk korban Wamena ? Mana pernyataan JK ? Mana kerangan bunga mega untuk Wamena ? Mana doa Lukman hakim untuk Wamena ? Mana narasi Bamsoet untuk menyelamatkan wanena ?
Atau kasus lain lagi, agak dekat dan sangat dekat di Jakarta. Kasus korban mahasiswa yang menolak RUU KUHP dan UU KPK.

Mana pidato Jokowi ? Mana bela sungkawa Jokowi untuk korban mahasiswa ? Mana pernyataan JK ? Mana kerangan bunga mega untuk korban mahasiswa ? Mana doa bersama Lukman hakim untuk mahasiswa ? Mana narasi Bamsoet untuk membela mahasiswa ?
Saya rasa, kasus Wiranto ini kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan korban mahasiswa apalagi tragedi Wamena. Namun, opini dan narasi yang dibangun terlalu lebai, kebanyakan micin.
Kalau memasak rendang, dagingnya cuma 1 ons, santannya 10 kg, micinnya 15 kg. Jadi, rasanya tidak karuan.
Fakta kecil cuma ditusuk, hebohnya sundul langit. Langsung narasi radikalisme dan terorisme yang dikumandangkan, selanjutnya narasi ini akan digunakan untuk menyudutkan kelompok-kelompok Islam, sambil terus digunakan untuk menutupi kegagalan rezim.
Sementara penanganan polisi atas demo mahasiswa yang begitu radikal, persekusi kepada UAS yang begitu radikal, pembantaian Wamena yang sangat radikal, ngototnya Pemerintah mempertahankan UU KPK yang begitu radikal, tenggelam karena peristiwa ecek-ecek ini.
Karena itu, wajar jika netizen begitu kritis menyikapi kasus ini dan justru mempersoalkan konten opini dan narasi yang dibangun rezim. Terlihat jelas, netizen tampak tak prihatin mendengar kabar Wiranto ditusuk, bahkan ada yang berkomentar kenapa tidak mati sekalian.
Nampaknya, fenomena ini menggambarkan  betapa Wiranto sangat dibenci publik. Karena itu, wajar saja terlepas fakta ini insiden atau didesain, semua opini dan narasi yang dibangun rezim ditentang publik. Nampaknya, rakyat sudah terlalu muak dengan semua kezaliman dan dusta yang diproduksi rezim. [].

Narasi Radikalisme


Kita harus berhati-hati dengan narasi, sebab ia adalah sebab dari kejadian, asal mula dari perubahan. Ada perubahan baik, dan tentu saja ada perubahan yang buruk

Para penjajah misalnya, membangun narasi bahwa mereka adalah penolong, mengenalkan modernitas, ras lebih unggul, untuk menutupi perampokan dan penjarahan

Narasi ini yang dipakai Amerika untuk membantai Indian, Belanda untuk kuasai Nusantara, sampai Israel yang membunuhi Muslim di Baitul Maqdis

Contoh lain, kaum anti agama, baik dari komunis atau liberalis sedari dulu membangun narasi, bahwa masalah utama bangsa adalah radikalisme agama

Narasi ini pernah terjadi di tahun 1955 - 1960 yang berujung pada pembubaran Masyumi dan teror bagi mereka yang mendukung perjuangan Islam di masanya

Saat ini, narasi radikalisme ini kembali digiatkan, kemana narasi ini ditujukan, semua sudah paham. Yaitu indonesia tanpa aturan agama, Indonesia yang sekular

Lihat saja yang sedang ramai, dosen IPB yang ditangkap dengan tuduhan merencana kerusuhan, dan itu seperti "mengamini" penelitian yang selama ini digencarkan

Bahwa radikalisme itu ada di kampus, bahwa ini masalah yang sangat besar. Tertutuplah bencana di depan mata di negeri ini, tentang kedaulatan, ekonomi, korupsi, hilang

Siapa yang disalahkan setelah itu? Rohis, masjid, dan tiap-tiap kegiatan "Islami" yang ada di kampus. Biangnya? Siapa lagi kalau bukan HTI dan Ikhwanul Muslimin. Klise

Di negeri ini, tak ada dosa selain radikalisme. Tak ada pendosa kecuali HTI, Ikhwanul Muslimin, FPI, dan siapapun yang Islami dituduh sama

Sedangkan, pembunuhan bisa hilang kasusnya, pelanggaran HAM berat bisa dicitrakan baik, pembantaian bisa direka dan diedit dengan angle yang pas dan kamera yang bagus

Dulu, saat narasi ini digencarkan, HAMKA dijuluki penghianat negara, Natsir dikata pembangkang negara. Sementara yang benar-benar menghancurkan bangsa, lewat begitu saja

Yang bakar hutan, yang korupsi ratusan milyar dan trilyun, yang jual beli jabatan, yang izinkan tanah negeri jadi tempat buang sampah negeri lain, yang jual kekayaan negeri pada asing, yang sibuk memperkaya diri, disilakan

Asal jangan taat Allah, sebab itu radikal.

Ternyata Ini Dia Obat Ampuh Berbagai Penyakit Berbahaya

Ternyata Ini Dia Obat Ampuh Berbagai Penyakit Berbahaya

Hadirnya penyakit pasti tidak diinginkan oleh semua orang. Kanker, Gagal Jantung, TBC, Diabetes dll pasti sedikit ngeri mendengar beberapa penyakit tersebut.

Beberapa orang mencari-cari ke sana-ke sini hal yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang dialaminya. Ada yang mencari sampai kepelosok untuk mencari obat herbal tersebut, bahkan ada yang menghabiskan uang ratusan juta untuk pengobatan tersebut. 

Namun tahukah sahabat Foraca? Obat yang sebenarnya tidak jauh, obat yang sebenarnya dekat sekali. Tidak perlu biaya uang banyak untuk membelinya karena tidak dapat dibeli dengan uang. Apakah obat segala penyakit tersebut?.

baca juga: Fakta Menarik Kucing Yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Pikiran Sebagai Obat Berbagai Penyakit

Ya betul sahabat Foraca, Anda tidak salah lihat. Sebenarnya Obat dari berbagai penyakit berbahaya ada dalam diri kita sendiri. Pikiran kita sendirilah yang menjadi kunci dari penyakit yang kita alami.

Bahkan dunia medis sekarang sudah menyadari bahwa faktor penyebab segala penyakit adalah faktor psikologis, diantaranya stress. Dan obat segala penyakit pun adalah pikiran, pikiran yang baik (positif thinking).


Hal tersebut juga telah dibuktikan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan Martin E.P Seligman dan dituliskan dalam bukunya yang berjudul "Menginstal Optimisme". 

Dalam buku itu dijelaskan bahwa orang yang hidupnya sehat di hari tua adalah orang-orang dengan pikiran positig (Positif thinking). Bahkan dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pikiran mempengaruhi seluruh badan bahkan sampai sel darah yang kecil sekalipun. 

Jika seseorang pikirannya Negatif maka kekebalan tubuhnya pun melemah sehingga penyakit baru masuk dan penyakit yang dialami dapat menjadi lebih parah. 

Bila tidak percaya dapat anda praktekan sendiri. Sudah banyak contohnya yang sudah terjadi, diantaranya: seseorang yang hanya meminum air segelas yang dibacakan kitab suci tiba-tiba merasa baikan, orang yang hanya dipegang oleh tangan dan diucapkan "pasti sehat" asalkan orang yang sakit itu percaya maka kemungkinan besar akan sehat kembali. 

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh kehebatan kekuatan pikiran yang diberikan oleh yang maha kuasa kepada kita. Namun tidak dapat dijelaskan semuanya dalam artikel ini.

Katakan saja "aku akan sehat, aku akan sembuh" asalkan percaya maka kemungkinan besar akan sembuh walaupun penyakit yang diderita bukan penyakit biasa. Atau yang paling ampuh adalah 'Doa' apapun obat yang disarankan dokter pasti sembuh asal dengan doa yang luar biasa, doa yang penuh harapan dan keyakinan karena doa adalah kekuatan pikiran penyembuh segala penyakit. 

Baca juga :




Cara Penulisan Kata 'di' Yang Benar Untuk Kalian yang Suka Menulis

Banyak orang yang mengatakan tidak suka menulis. Ternyata orang-orang itu sebenarnya suka menulis walau itu tulisan elektronik seperti pesan WA, update status dan lain-lain. Tapi sedikit orang yang mengetahui cara penulisan kata "di" yang benar.

Banyak orang yang menulis itu asal-asalan. Ada yang menulis huruf g diganti dengan huruf k, tenang jadi tenank. Ada juga yang singkat singkat kata (OTW) ada aja ya.

Padahal media sosial adalah tempat paling bagus untuk belajar menulis dengan benar dan berkualitas. Dengan belajar menulis yang benar di medsos maka rasa malas belajar bisa diatasi dengan tidak terlalu sulit seperti saat menulis di buku. 

Baca juga : Sosial media seperti Facebook, Instagram, Watsap, eror gimana solusinya?

Nah sekarang ini Foraca ingin memberi tahu sahabat foraca tentang cara penulisan kata di yang benar, semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat Foraca yang membacanya untuk menjadi penulis yang berkualitas. 

Cara penulisan kata "di" yang benar pada judul

Penulisan judul itu ada aturannya yaitu sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). Salah satunya dalam penulisan kata "di" pada judul. 

Pada judul, setiap awal kata itu ditulis kapital. Namun kata "di" pada judul harus ditulis kecil kecuali saat berada di awal judul. 

Contohnya pada judul "Mimpi di Atas Langit" maka kata "di" disitu harus di tulis huruf kecil karena berada di tengah kalimat. Namun bila kata "di" merupakan kata awal judul maka kata "di" harus ditulis kapital contohnya "Di Dalam Mimpi Kita Bertemu". 

Penulisan Kata "di" Yang Benar Pada Kata


Kata "di" merupakan kata awalan. Kata awalan itu tergantung pada kata kedua yang diikutinya. 

Kata "di" Dipisah Pada Kata Tempat dan Waktu


Bila ada kata "di" lalu setelahnya ada kata tempat, maka kata "di" dipisah. Contohnya "di Bandung, di toilet, di kamar, di mana?" Intinya berkaitan dengan tempat maka harus di pisah. 

Atau pada kata kata yang merujuk pada waktu juga kata "di" itu harus dipisah. 
Contohnya "di sore hari, di waktu pagi, di malam dll". 

Kata "di" Digabung Pada Kata Kerja


Kata "di" digabung bila menjadi kata imbuhan atau mengikuti kata kerja. Contohnya "dimarahi, dirasa, dikerjakan dll". 

Intinya jika ada kata kerja setelah kata "di" maka harus digabung. Filosofinya jika kita kerja maka otomatis nyamannya, bagusnya tempat kerja itu dekat begitu juga kata di.

Baca juga : Fakta Menarik Rambutan dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Sebenarnya ada yang lebih simple lagi saat menentukan kata "di" dipisah atau digabung. Caranya yaitu dengan mengetes apakah kata "di" tersebut dapat diganti dengan kata "me,meng atau mem" atau tidak. 

Jika kata "di" dapat diganti denga kata "me,mem atau meng" maka harus digabung. Contohnya dirasa menjadi merasa, dilakukan menjadi melakukan dll".

Begitupun sebaliknya, jika kata "di" tidak bisa diganti dengan kata "me,mem,meng" maka harus dipisah. Contoh kata di sini tidak dapat menjadi mengini, kata di bawah tidak bisa menjadi kata membawah dll. 

Nah sahabat Foraca itulah cara penulisan kata "di" yang benar. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat Foraca yang membacanya.

Baca juga: Cara Download Video Youtube




DEDY CORBUZIER UCAPKAN KALIMAT SYAHADAT DAN MENANGIS


Deddy Corbuzier akhirnya resmi beragama Islam. Ritual syahadat yang dilakukan Deddy dibimbing langsung oleh Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah, salah satu kiai Nahdlatul Ulama (NU) Jogja.

Deddy melangsungkan syahadatnya di Masjid Al Mbejaji, Pondok Pesantren Ora Aji milik Gus Miftah sekitar pukul 12.35 WIB. Sebelum melangsungkan syahadat di mimbar, Gus Miftah mengajak Deddy untuk berpelukan terlebih dahulu.

Usai resmi mualaf, Deddy Corbuzier langsung dipeluk lagi Gus Miftah, yang menuntutnya mengucap kalimat syahadat. 

Setelah itu tampak Deddy Corbuzier mengusap air matanya. 

Hal ini tampak dalam video yang diunggah akun instagram Deddy Corbuzier, Jumat (21/6/2019). 

Prosesi Pengucapan Syahadat Deddy corbuzier Alhamdulillah berjalan lancar dan khidmat.

Beliau sudah lama belajar tentang Islam dengan ustad ustad wijayanto bertukar pikiran mengenai hal2 tentang agama Islam. Hingga akhirnya bertekad bulat dan kuat untuk memeluk agama Islam.

Difasilitasi gusmiftah dalam prosesi Pengucapan 2 kalimat Syahadat disaksikan oleh orang yang hadir.

Semoga Allah menjaga keteguhan Islam dalam hatinya. Aamiin