Pengamat terorisme dan intelijen, Harits Abu Ulya menyatakan sepakat untuk mengutuk setiap aksi kekerasan fisik terhadap semua anak bangsa. Namun, dia menduga kekerasan bisa saja aktornya adalah negara, oknum aparatur negara, atau dari sekelompok masyarakat bahkan bisa dari individu-individu masarakat terhadap sesama anak bangsa penghuni NKRI.

“Kasus yang menimpa Pak Wiranto menurut saya adalah salah satu contoh tindak kriminal kekerasan. Aksi kriminal tersebut perlu ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Harits di Jakarta, Kamis (10/10).

“Bisa saja itu pelakunya adalah orang-orang yang secara personal benci kepada Wiranto sebagai Menko Polhukam yang selama ini dianggap membuat statemen politik yang tidak nyaman bagi sebagian nalar dan nurani publik,” ujarnya melanjutkan.

Selain itu, kata dia, bisa saja kasus kriminal ini seolah menjadi sangat penting karena yang di serang adalah seorang pejabat menteri meski jelang titik akhir jabatannya. Namun, jika dibandingkan dengan kasus atau tragedi aksi kekerasan lainnya yang menimpa rakyat, maka apa yang dialami Wiranto suatu hal yang kecil.

“Rakyat masih banyak yang lebih menderita dan butuh perhatian lebih serius pengungsi korban gempa Ambon, pengungsi dan korban penyerangan di Wamena, korban meninggal dan luka-luka saat aksi demonstrasi beberapa pekan lalu, dan lain-lain,” katanya.

“Jadi kita proporsional saja, pelaku kriminal penyerangan di bawa ke meja hijau dan di adili,” imbuhnya.

Namun, bisa saja ada sebagian pihak yang ngebet menyeret ke arah isu terorisme dengan munculnya narasi keterkaitan pelaku kriminal tersebut dengan kelompok tertentu yang selama ini di cap teroris. Dengan begitu akan mudah memunculkan judul ‘Menteri Polhukam di serang Teroris’, akhirnya akan banyak melupakan persoalan urgen lainnya dan publik di seret ke isu daur ulang yang tidak ada ujung pangkalnya.

0 komentar:

Post a Comment